Imam Bukhari

Nama Beliau Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fi al-Bukhari atau lebih dikenal Imam Bukhari karena lahir di kota Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah. Beliau  lahir pada tanggal 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M). Tak lama setelah lahir, dia kehilangan penglihatannya.

Dalam hal Aqidah beliau beraliran Ahlussunnah wal Jamaah dan dalam hal ibadah beliau bermazhab Syafii.

Dalam kitab ats-Tsiqat, Ibnu Hibban menulis bahwa ayahnya dikenal sebagai orang yang wara’ dalam arti berhati hati terhadap hal hal yang bersifat syubhat (ragu-ragu) hukumnya terlebih lebih terhadap hal yang haram. Ayahnya adalah seorang ulama bermadzhab Maliki dan merupakan murid dari Imam Malik, seorang ulama besar dan ahli fikih. Ayahnya wafat ketika Bukhari masih kecil.(Sumber: Wikipedia)

Guru-Guru Beliau banyak sekali di antaranya : Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal, Ibnu Rahawaih, Ali ibn Al Madini, Yahya bin Ma’in, Muhammad bin Yusuf Al Faryabi, Maki Ibrahim Al Bakhi, dan Muhammad bin Yusuf Al Baykandi, serta Syekh Ad Dakhili di Bukhara.

Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, akhirnya Bukhari menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami’al-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari. Kitab-kitab karya Beliau antara lain:

  • Al-Jami’ ash-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari
  • Al-Adab al-Mufrad[2][3]
  • Adh-Dhu’afa ash-Shaghir[4]
  • At-Tarikh ash-Shaghir
  • At-Tarikh al-Ausath[5]
  • At-Tarikh al-Kabir[6]
  • At-Tafsir al-Kabir
  • Al-Musnad al-Kabir
  • Kazaya Shahabah wa Tabi’in
  • Kitab al-Ilal
  • Raf’ul Yadain fi ash-Shalah
  • Birr al-Walidain
  • Kitab ad-Du’afa
  • Asami ash-Shahabah
  • Al-Hibah
  • Khalq Af’al al-Ibad[7]
  • Al-Kuna
  • Al-Qira’ah Khalf al-Imam

Kebesaran akan keilmuan dia diakui dan dikagumi sampai ke seantero dunia Islam. Di Naisabur, tempat asal imam Muslim seorang Ahli hadits yang juga murid Imam Bukhari dan yang menerbitkan kitab Shahih Muslim, kedatangan dia pada tahun 250 H disambut meriah, juga oleh guru Imam Bukhari Sendiri Muhammad bin Yahya Az-Zihli. Dalam kitab Shahih Muslim, Imam Muslim menulis. “Ketika Imam Bukhari datang ke Naisabur, saya tidak melihat kepala daerah, para ulama dan warga kota memberikan sambutan luar biasa seperti yang mereka berikan kepada Imam Bukhari”. Namun kemudian terjadi fitnah yang menyebabkan Imam Bukhari meninggalkan kota itu dan pergi ke kampung halamannya di Bukhara.

Seperti halnya di Naisabur, di Bukhara dia disambut secara meriah. Namun ternyata fitnah kembali melanda, kali ini datang dari Gubernur Bukhara sendiri, Khalid bin Ahmad Az-Zihli yang akhirnya Gubernur ini menerima hukuman dari Sultan Uzbekistan Ibn Tahir.

Tak lama kemudian, atas permintaan warga Samarkand sebuah negeri tetangga Uzbekistan, Imam Bukhari akhirnya menetap di Samarkand. Tiba di Khartand, sebuah desa kecil sebelum Samarkand, ia singgah untuk mengunjungi beberapa familinya. Namun disana dia jatuh sakit selama beberapa hari, dan Akhirnya meninggal pada tanggal 31 Agustus 870 M (256 H) pada malam Idul Fitri dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Ia dimakamkan selepas Salat Dzuhur pada Hari Raya Idul Fitri. (sumber: Wikipedia)

Iklan